Rumah Tangga Perkahwinan Dalam Islam

Apakah yang menjadi tujuan perkahwinan Anda? Sekadar untuk melepaskan nafsu? Untuk membahagiakan pasangan yang Anda cintai? Untuk melahirkan generasi yang kuat, sejahtera dan bahagia di belakang kita? Atau, lebih jauh dari itu.

Semua itu akan mempengaruhi jalan rumah tangga yang sedang kita bina. ‘Tujuan’ menentukan ‘cara’. Bahkan menentukan hasil. Tujuan yang salah dan tidak baik akan berpengaruh tidak baik pula pada hasil yang kita capai. Bahkan juga pada proses yang kita jalani.

Rumah tangga yang baik dan bahagia adalah rumah tangga yang sejak awal sudah diorientasikan untuk mencapai tujuan yang baik dan bahagia. Itulah rumah tangga yang dilandasi dengan tujuan ibadah.

Dari sekian banyak tujuan ibadah itu, salah satunya adalah menghasilkan keturunan yang salih dan salihah. Anak-anak yang meneruskan misi dan visi ibadah kepada Allah semata.

Itulah yang diajarkan oleh nabi Ibrahim sejak awal. Sang Nabi Kesayangan Allah yang ditugasi untuk menyampaikan agama Islam kepada manusia, hingga diteruskan oleh nabi-nabi keturunan beliau – termasuklah nabi Muhammad saw.

QS. Al Baqarah (2): 124
Dan, ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dariketurunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku tidak berlaku bagi orang-orang yang zalim”.

Keturunan yang beriman adalah salah satu tujuan ibadah dalam membangun rumah tangga. Dimulai dari suami dan istri yang beriman, bakal menghasilkan rumah tangga yang beriman pula. Rumah tangga yang sakinah mawaddah wa rahmah.

Dan kemudian, hasil berikutnya, adalah keturunan yang beriman. Anak-anak yang salih dan salihah. Begitulah, Allah mengajarkan kepada setiap muslim agar menjaga diri dan keluarganya dari api neraka. Dan menjadikan rumah tangganya sebagai syurga dunia…

QS. At Tahrim (66): 6
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan- Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

QS. Al Furqaan (25): 74
Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.

Keluarga yang penuh ketenteraman dan kebahagiaan. Dan anak-anak yang menyejukkan hati dengan segala tingkah laku mereka yang Islami. Bukan keluarga yang penuh dengan pertengkaran dan amarah,  tingkah laku keluarga yang salah, atau anak-anak yang bermasalah.

Anak-anak yang salih dan salihah bakal tumbuh dari keluarga yang salih dan salihah juga. Jiwa mereka diukir dengan benih-benih iman dalam kehidupan mereka. Oleh doa-doa ikhlas kedua orang tuanya amatlah penting dan juga nasihat-nasihat bijak yang penuh dengan kasih sayang.

Rasulullah saw memberikan nasihat kepada umatnya agar mendidik anak dengan sebaik-baiknya. Kerana seorang anak dilahirkan bagaikan kertas putih tanpa cela. “Orang tuanyalah yang menjadikan dia itu muslim, nasrani, yahudi atau majusi.”

Di sinilah kita memahami kenapa Allah mengatakan, jaga dirimu dan keluargamu dari api neraka. Jika kita tidak boleh menjaga diri kita dari api neraka, maka keluarga kita pun akan terimbas ke bencana. Maka keluarga dan rumah tangga kita pun menjadi neraka dunia. Sebaliknya jika kita boleh menjaga tingkah laku sesuai dengan perintah Allah dan rasulNya, maka kita pun merasakan bahagia. Rumah tangga bagaikan syurga dunia. Anak-anak, istri dan suami menjadi penyejuk hati. Menyegarkan dan mententeramkan jiwa…

Anak-anak yang salih dan salihah adalah anak-anak yang cerdas secara intelektual, dewasa secara emosional dan matang secara spiritual. Maka keluarga Muslim harus berupaya menjadikan anak-anaknya memiliki kecerdasan yang sempurna. Mampu berfikir sendiri secara rasional dan segala kemahiran lain perlulah dibentuk atau pun dididik. Kerana di sinilah bertumpu kecerdasan intelektual si anak.

Selain itu, sejak kecil anak-anak kita juga harus memperoleh latihan kematangan emosi. Melatih anak supaya sabar dan tidak tergesa-gesa dalam melakukan sesuatu. Mendorong anak-anak supaya bersikap rendah hati, tidak sombong dan mampu mengendalikan emosi.

Memotivasi anak agar memiliki empati dan rasa belas kasihan kepada orang lain, dan lain sebagainya, yang akan menjadikan anak-anak kita memiliki kematangan emosi. Cerdas secara emosional.

Kerana ternyata, banyak bukti menunjukkan kejayaan seseorang itu sangat dipengaruhi oleh kematangan emosinya dibandingkan dengan intelektualnya. Intelektual yang tinggi saja, tanpa disertai dengan kematangan emosional seringkali memunculkan masalah dalam komunitinya.

Cerdas, tapi pemarah misalnya. Bijak, tapi tak sabar dalam mengambil keputusan. Atau punya kemahiran hebat, tapi tak boleh bekerjasama dengan kumpulannya. Maka, penting sejak kecil seorang anak mesti dilatih untuk memiliki kematangan emosi yang bagus.

Dan lebih dari semua itu, keimanan yang utuh memegang peranan kunci dalam keperibadian seseorang. Orang pintar, emosinya terkawal, sekaligus penuh keikhlasan dan kesabaran dalam bekerja, bakal memberikan hasil yang sempurna.

Apalagi kalau semua itu diorientasikan untuk kemaslahatan orang banyak – atas nama Allah yang Rahman dan Rahim – maka hasilnya akan semakin sempurna. Itulah yang di agama kita disebut sebagai rahmatan lil ‘alamiin – menjadi rahmat bagi seluruh alam. Inilah tujuan puncak beragama.

QS. Al Anbiyaa’ (21): 107
Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.

Maka, sebuah rumah tangga muslim harus menghasilkan keturunan yang berguna untuk tujuan yang sangat mulia : bermanfaat buat dirinya, buat keluarganya, buat orang-orang di sekitarnya, dan buat seluruh makhluk yang berinteraksi dengannya.

Allah menciptakan manusia untuk membentuk tata tertib kehidupan universal yang penuh kedamaian dan kebahagiaan. Sebab, sejak awal, manusia memang diciptakan sebagai khalifah Bumi.

Dan kita sebagai ibu bapa diberi amanah untuk menciptakan pemimpin-pemimpin yang beriman bagi kemaslahatan kehidupan di planet Bumi. Kerana itu Allah sangat memuliakan ibu bapa. Mereka adalah wakil Allah di muka Bumi, dalam konteks ikut ‘menciptakan’ generasi-generasi yang Islami.

QS. Al Ahqaf (46): 15
Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapanya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau redhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguh-nya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.

Ayat di atas memberikan gambaran betapa mulia dan bahagianya rumah tangga muslim. Sebab, berumah tangga tidak hanya dikaitkan dengan kelangsungan keturunan, melainkan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang luhur. Istimewanya, dengan budaya berkeluarga secara turun temurun.

Cuba fahami ayat tersebut, Allah memerintahkan manusia untuk menghormati ibu bapanya. Kerana beliau berdualah kita menjadi ada di muka bumi. Dengan segala susah payah dan pengorbanannya, mereka membesarkan kita hingga dewasa.

Jasa mereka tidak boleh kita ukur dengan apa pun. Mereka bagaikan wakil Allah yang ditugaskan khusus untuk mengawal kehadiran kita sebagai khalifatu fil ardhi. Calon pemimpin di muka bumi.

Kerana itu sesudah dewasa, seorang anak yang salih akan ganti mendoakan orang tuanya agar mereka disayangi Allah sebagaimana orang tuanya menyayanginya sejak kecil. Tidak ada balasan yang setimpal yang boleh kita berikan kepada orang tua kita, kecuali kasih sayang Allah yang tiada terbatas.

Bahkan, bukan hanya berhenti di situ, ayat tersebut mengajarkan kepada kita, agar berdoa kepada Allah bagi anak keturunan kita. Anak cucu kita. Entah sampai berapa generasi ke depan, agar mereka menjadi pemimpin-pemimpin yang salih dan rahmatan lil alamin.

Kerana itu Rasulullah saw mengajari agar kita mendoakan orang tua setiap selesai solat: Allahummaghfirli waliwaalidayya warhamhumma kamaa rabbayaani shaghiira. “Ya Allah ampunilah dosa-dosa kedua orang tua kami, dan sayangilah mereka sebagaimana mereka telah mengasuhku sejak kecil,”

Islam mengajarkan keluhuran budi pekerti kepada kita semua. Dan tidak pernah melupakan jasa orang lain kepada kita. Apalagi orang tua kita yang tercinta. Sehingga dalam ayat berikut ini Allah menegaskan kepada kita agar, suatu saat nanti, ketika orang tua sudah berusia lanjut dan tidak berdaya, janganlah kita berbuat yang tidak pantas kepada mereka.

Ingatlah, bahwa merekalah yang melahirkan kita, membesarkan kita, mendidik kita, dan memberikan segala-galanya untuk kebahagiaan kita. Maka, jangan sekali-kali berkata kasar. Apalagi berbuat yang menyakitkan hati.

QS. Al Israa’ (17): 23
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapamu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali jangan-lah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.

Cuba lihat, Allah melarang kita berbicara dengan nada tinggi. Apalagi membentak kepada bapak ibu kita. Bahkan berkata ‘Ah’ dengan nada yang agak keras saja dilarang oleh Allah. Ucapkan kata-kata yang mulia kepada mereka berdua.

Kenapa Allah berfirman secara khusus tentang hal ini? Kerana kejadian seperti ini banyak terjadi. Begitu banyaknya anak-anak yang sudah dewasa tidak boleh membalas budi kepada orang tuanya. Maka, setidak-tidaknya berkatalah lemah lembut kepada keduanya. Mereka tidak meminta balasan berupa harta benda dan hal-hal yang bersifat material. Cukup dengan memberikan ‘perhatian’ yang baik sebagaimana mereka telah mengasuh kita selama ini.

Kekuatan fizikal mereka sudah berkurang seiring dengan usia. Kemampuan intelektual mereka pun sudah jauh menurun. Banyak hal yang mereka perlukan bantuan. Betapa sedihnya kalau anak-anak mereka tidak mau lagi memperhatikan keadaan mereka. Siapa lagikah yang boleh dan mau memberikan bantuan itu?

Maka Allah memberikan perintah secara tegas lewat ayat di atas, dengan penekanan “Jika mereka sudah berumur lanjut, dan dalam pemeliharaanmu. ..,” muliakanlah mereka.

Kita harus ingat, bahwa kita yang sekarang masih muda ini pun suatu ketika akan menjadi tua. Seperti orang tua kita. Jika kita tidak berbuat baik kepada orang tua, maka nanti kita akan dibalas oleh anak-anak kita. Diperlakukan seperti saat kita memperlakukan orang tua kita.

Sebaliknya, kalau kita memperlakukan dengan baik, apalagi memuliakan mereka, maka anak-anak kita bakal mencontoh apa yang kita lakukan itu. Pada waktu kita sudah tua renta, anak-anak kita bakal ganti memperlakukan kita dengan mulia. Persis seperti contoh yang kita berikan kepadanya, saat kita memuliakan ibu bapak kita.

Tentu, bukan hanya orang tua kandung dari pihak suami saja. Atau orang tua kandung dari pihak istri saja. Melainkan kedua-duanya. Orang tua kandung dan mertua sudah menjadi orang tua kita semua. Sebab, bagi anak-anak kita, mereka itu adalah sama saja: Eyang dan Kakek-Neneknya.

Kalau kita berlaku tidak baik kepada salah satu diantaranya, maka anak-anak kita pun akan meniru memperlakukan kita seperti itu kelak.

Ah, betapa indahnya berumah tangga di dalam ajaran Islam. Kita sedang diajari Allah untuk membangun budaya dan peradaban dalam skala yang kecil.

Jika rumah tangga kita menjadi rumah tangga yang bahagia, maka ini akan menular kepada lingkaran yang lebih besar. Orang tua kita ikut bahagia. Mertua kita pun ikut bahagia. Saudara-saudara juga ikut bahagia. Bahkan kalau kualiti rumah tangga ini demikian baiknya, kebaikan itu akan menular ke siapa saja yang berdekatan dengannya. Itulah yang disebut sebagai rahmatan lil alamin, merahmati siapa saja yang ada di sekitarnya.

Rumah tangga adalah unit terkecil dari masyarakat. Jika setiap rumah tangga muslim boleh menjadi contoh rumah tangga yang sakinah, mawaddah wa rahmah, maka masyarakat yang ada di sekitarnya pun bakal menjadi masyarakat yang sakinah mawaddah wa rahmah. Masyarakat yang tenteram, penuh cinta dan kasih sayang di dalam redha Allah yang Maha Bijak lagi Maha Penyayang…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *